Yah, meskipun agak telat, gak apa kan kalau baru posting sekarang, sambil melihat perkembangan terkini tentunya. he5. Jadi postingan ini tak khususkan untuk film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari novel aslinya yang berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy. Dimana film ini diproduksi oleh A Dhamon & Manoj Punjabi (Dinasti Punjabi nih).

Ehm, sebenarnya aku gak terlalu gembira atau seperti orang lain mungkin. Maksudnya begini, Film itu kan seakan-akan menghipnotis masyarakat Indonesia, terutama bagi temen-temen kita yang telah membaca novelnya (seperti banyak halnya temen-temenku tapi kecuali aku yang kalo disuruh baca novel ya males, he5).

Pada khususnya temen-temen kita para muslimah, seperti adik-ku misalnya, ya karena dia akhirnya aku meng-copykan film itu (maaf atas kelakuan pembajakan ini), dan terpaksa juga harus liat film-nya. Ehm ternyata bagus juga, meskipun aku gak tau apa isi novelnya, film itu bagus untuk dilihat, hanya saja…

Lha ini, gak ada yang sempurna, tapi boleh kan (mohon ijin, maaf sebelumnya) sedikit memberi peringatan atau komentar. Dengan tetep menghormati karya besar film itu yang memang sangat bagus dan banyak tanggapan atas film itu kalo di media mungkin yang saya baca ada 2 kubu.

“Sebagian penggemar AAC mengatakan bahwa inilah film Islam. Tapi, mereka yang skeptis menuding AAC adalah kampanye terselubung poligami” (dari artikel Dhimam Abror Djuraid pada Harian Surya tgl 30 Maret 2008 halaman 1.

Kalo saya punya pendapat berbeda dari kedua kubu yang ada (mungkin). Yang saya rasakan waktu pertama kali lihat film itu adalah “adanya penyusupan beberapa nilai” yang malah tidak Islamis. Mungkin yang membuat saya tidak sreg kalo film itu adalah film Islam atau Islami adalah 2 adegan berikut.

  1. Adegan ciuman waktu malam pertama pemeran utama (meskipun status dalam cerita mereka telah menikah)
  2. Ini mungkin yang halus dan tidak dirasakan ama temen-temen, yakni adegan setelah pemukulan pemeran utama di dalam kereta. Inget? waktu pemeran utama berusaha meredam amarah seorang muslim, lalu ternyata dia dipukul, dan setelah memukul, si pemukul meninggalkan tempat sambil berteriak “Allahuakbar” (deng) disitu dia aku yang tidak suka (paling tidak suka), terlebih kata temen-temenku yang telah membaca novelnya, adegan itu gak ada dalam novelnya, nah tuh.

Begini, aku sering melihat film-film barat, ada beberapa yang sering banget diulang-ulang. Tapi ternyata ada sedikit perbedaan pada film yang sama. Kalau aku gak salah pernah juga lihat limputan di suatu acara televisi, dimana di barat sekarang sering juga mengedit film-film lama dengan adegan baru. Contoh film MIT kalau gak salah, kalau dulu ada adegan seorang anak kecil membawa senjata, maka syuting lagi dengan mengganti senjata itu dengan tongkat kasti.

Lha di film-film lain yang ditayangkan ulang itu, saya secara tidak sengaja tak lihat ada penyusupan adengan yang sebelumnya tidak ada, adegannya begini, mungkin mereka mengumpat dengan menggunakan kalimat-kalimat dalam bahasa arab, atau menghubungkan tokoh antagonis film lama dengan alqaida, dan pada umumnya adegan-adegan tambahan tersebut ada setelah 11 september itu.

Intinya, ada upaya memperlihatkan kekerasan dalam Islam yang mereka pandang, seakan-akan lafadz “Allahuakbar” adalah lafadz emosi, lafadz jihad (dengan pengertian yang keliru), yang membangkitkan emosi, padahal kita tahu tidak, justru lafadz itu kan malah merendahkan kita sebagai makhluk yang bukan apa-apa? (kalau komentar ini keliru, mohon koreksi)